Bahaya Gula Pasir

Bahaya Gula Pasir

 

1. Gula menekan imunitas tubuh dan melemahkan pertahanan tubuh terhadap infeksi 1,2

2. Gula merusak keseimbangan mineral dalam tubuh: menyebabkan kekurangan
Chromium dan tembaga (Copper) dan menghalangi penyerapan Kalsium dan
Magnesium. Chromium dibutuhkan untuk metabolisme glucosa, untuk regulasi gula
darah, untuk sintesa cholesterol, lemak dan protein. Copper: dibutuhkan untuk
pembentukan tulang, hemoglobin dan sel darah merah. Magnesium: sangat penting
untuk aktivitas enzyme, penyerapan calcium dan potassium, untuk transmisi sinyal-sinyal
syaraf, untuk pembentukan tulang dan metabolisme karbohidrat dan mineral. 3,4,5,6.

3. Gula dapat menyebabkan kenaikan adrenaline secara cepat, menyebabkan anak
menjadi hiperaktif, gelisah, sulit konsentrasi dan cengeng. 7,8

4. Gula menyebabkan kenaikan total cholesterol, kenaikan triglycerides, kenaikan LDL
(“Bad Cholesterol”), dan penurunan HDL (“Good Cholesterol”) 9,10,11,12

5. Gula adalah makanan sel kanker, dan berhubungan dengan pertumbuhan kanker
payudara, kanker kandungan (ovaries), kanker prostat, kanker usus (rectum), kanker
pankreas, kanker biliary tract, kanker paru-paru, dan kanker perut. 14,15,16,17,18,19,20

6. Gula dapat menaikkan gula darah sesaat dan mengakibatkan hypoglycemia (gula darah
rendah). 21,22

7. Gula melemahkan ketajaman penglihatan mata. 23

8. Gula dapat menyebabkan banyak masalah pada pencernaan termasuk: naiknya
keasaman pencernaan, ketidakmampuan penyerapan makanan, menaikkan resiko
penyakit Crohn, dan penyakit ulcerative colitis. (keduanya adalah luka pada dinding usus
besar). 24,25,26,27,28

9. Gula menyebabkan penuaan yang lebih cepat. 29

10. Gula membuat ludah menjadi asam, menyebakan kerusakan gigi, dan penyakit
gusi.31,32,33

11. Gula menyebabkan kegemukan. 34
Laki-laki gemuk tinggi 177 cm, berat 146 kg (BMI=46, seharusnya BMI=25)

12. Gula dapat menyebakan penyakit autoimun seperti: arthritis, asthma, dan multiple
sclerosis.35,36,37

13. Gula menyuburkan infeksi jamur dalam tubuh (Candida Albicans) 38

14. Gula dapat menyebabkan batu empedu (gallstones). 39
batu empedu dalam kantung empedu

15. Gula dapat menyebabkan usus buntu.40

16. Gula dapat menyebabkan hemorrhoids.41

17. Gula dapat menyebabkan varicose veins (pembengkakan pembuluh darah besar).42

18. Gula dapat menaikkan gula darah dan insulin pada pemakai pil KB. 43

19. Gula memberikan kontribusi pada penyakit osteoporosis (kerapuhan tulang).44

20. Gula dapat menyebabkan turunnya sensitivitas insulin yang mengakibatkan tingginya
insulin secara abnormal, dan akhirnya diabetes. 45,46,47

22. Gula dapat menurunkan level Vitamin E dalam tubuh.48

23. Gula dapat menaikkan tekanan darah (tekanan darah systolic). 49

24. Gula dapat menyebabkan kantuk dan menurunkan aktivitas pada anak-anak. 50

25. Tingginnya asupan gula menaikkan Advanced Glycation End Products
(AGEs)(molekul gula melekat padanya sehingga merusak protein tubuh).51

26. Gula dapat menghalangi penyerapan protein pada tubuh. 52

27. Gula dapat menyebkan alergi makanan. 53

28. Gula dapat menyebabkan toxemia (racun pada darah) pada Ibu hamil. 54

29. Gula memberikan kontribusi penyakit eczema (semacam dermatitis, penyakit kulit)
pada anak-anak.55

30. Gula dapat menyebabkan atherosclerosis (penyumbatan pembuluh darah) dan
penyakit cardiovascular (jantung).56,57

31. Gula dapat merusak struktur DNA. 58

32. Gula dapat merubah struktur protein dan merubah metabolisme protein dalam tubuh.
59,60

33. Gula menyebabkan kulit menua dengan merubah struktur collagen. 61

34. Gula dapat menyebabkan katarak mata dan rabun dekat. 62,63

35. Gula dapat menyebabkan emphysema (penyakit paru-paru).64
emphysema akut

36. Tingginya konsumsi gula menyebabkan kerusakan physiological homeostasis dari
banyak system dalam tubuh.65

37. Gula merendahkan kemampuan enzym untuk berfungsi. 66

38. Konsumsi gula yang tinggi terdapat pada orang yang terkena penyakit Parkinson. 67

39. Gula dapat menyebakan hati (liver) membesar, dan menaikkan lemak hati.68,69

40. Gula dapat ginjal membesar, dan menghasilkan perubahan patologis pada ginjal
seperti pembentukan batu ginjal.70,71
9 mm batu ginjal

41. Gula dapat merusak pankreas.72

42. Gula dapat menaikkan retensi air dalam tubuh. 73

43. Gula adalah penyebab sulit BAB no 1. 74

44. Gula dapat merusak lapisan pembuluh darah (capillaries).75

45. Gula dapat membuat otot tendon menjadi kaku..76

46. Gula dapat menyebabkan sakit kepala termasuk migren. 77

47. Gula dapat mengurangi kemampuan belajar anak sekolah, memperburuk hasil sekolah
anak, dan menyebabkan kesulitan dalam belajar. 78,79

48. Gula dapat menyebabkan naiknya gelombang delta, alpha, and theta pada otak, yang
pada intinya merubah kemampuan anda untuk berfikir jernih. 80

49. Gula dapat menyebabkan depresi.81

50. Gula dapat meningkatkan resiko sakit asam urat. 82

51. Gula dapat meningkatkan resiko penyakit Alzheimer.83

52. Gula dapat menyebabkan ketidak seimbangan hormon seperti: meningkatnya estrogen
pada pria, menstruasi yang sulit pada wanita, dan berkurangnya hormon pertumbuhan
badan.84,85,86,87

53. Gula dapat menuju pada pusing (kliyengan) .88

54. Pola makan tinggi gula akan menaikkan radikal bebas.89

55. Pola makan tinggi gula pada pasien dengan penyakit peripheral vascular secara
signifikan menaikkan penggumpalan darah (platelet adhesion).90

56. Pola makan tinggi gula pada ibu remaja yang hamil secara signifikan mengurangi
kemampuan memberikan ASI dan berhubungan dengan naiknya 100% resiko bayi
prematur.91,92

57. Gula adalah zat adiktif. 93

58. Gula dapat membuat mabuk seperti alkohol.94

59. Gula diberikan pada bayi prematur dapat mempengaruhi jumlah carbon dioxida yang
dihasilkannya. 95

60. Berkurangnya asupan gula dapat meningkatkan stabilitas emosi.96

61. Badan anda merubah gula menjadi 2-5 kali lebih banyak lemak pada aliran darah
daripada kanji (starch).97

62. Penyerapan yang cepat dari gula, mendorong nafsu makan yang tinggi pada orang
yang gemuk. 98

63. Gula dapat memperburuk symptom pada anak yang memiliki attention deficit
hyperactivity disorder (ADHD).99

64. Gula sangat mempengaruhi komposisi elektrolit dari air seni. 100

65. Gula dapat melambatkan kemampuan adrenal glands untuk berfungsi. 101
Adrenal glands terutama berfungsi untuk meregulasi response dari stress
melalui sintesa corticosteroids dan catecholamines (cortisol, adrenaline).

66. Gula memiliki kemampuan untuk membuat proses metabolisme menjadi tidak normal
pada orang yg sehat dan dapat menuju pada penyakit degeneratif. 102

67. I.V.s (intravenous feedings) dari larutan gula dapat memotong asupan oxygen pada
otak. 103

68. Gula menaikkan resiko untuk terkena polio. 104

69. Masukan gula tinggi dapat menyebabkan epileptic seizures.105

70. Gula menyebabkan tekanan darah tinggi pada orang yang gemuk. 106

71. Pada ICU (intensive care units): Membatasi gula dapat menyelamatkan nyawa
seseorang. 107

72. Gula dapat menyebabkan kematian sel. 108

73. Pada penjara anak-anak, ketika anak-anak tidak diberi gula, terdapat 44 persen
penurunan aktifitas anti-sosial.109

74. Gula membuat dehidrasi pada bayi. 110

75. Gula dapat menyebabkan sakit pada gusi. 111

Referensi:

1. Sanchez, A., et al. Role of Sugars in Human Neutrophilic Phagocytosis, American Journal of Clinical

Nutrition. Nov 1973;261:1180_1184. Bernstein, J., al. Depression of Lymphocyte Transformation Following

Oral Glucose Ingestion. American Journal of Clinical Nutrition.1997;30:613

2. Ringsdorf, W., Cheraskin, E. and Ramsay R. Sucrose, Neutrophilic Phagocytosis and Resistance to Disease,

Dental Survey. 1976;52(12):46_48.

3. Couzy, F., et al. “Nutritional Implications of the Interaction Minerals,” Progressive Food and Nutrition

Science 17;1933:65-87

4. Kozlovsky, A., et al. Effects of Diets High in Simple Sugars on Urinary Chromium Losses. Metabolism. June

1986;35:515_518.

5. Fields, M.., et al. Effect of Copper Deficiency on Metabolism and Mortality in Rats Fed Sucrose or Starch

Diets, Journal of Clinical Nutrition. 1983;113:1335_1345.

6. Lemann, J. Evidence that Glucose Ingestion Inhibits Net Renal Tubular Reabsorption of Calcium and

Magnesium. Journal of Clinical Nutrition. 1976 ;70:236_245.

7. Goldman, J., et al. Behavioral Effects of Sucrose on Preschool Children. Journal of Abnormal Child

Psychology.1986;14(4):565_577.

8. Jones, T. W., et al. Enhanced Adrenomedullary Response and Increased Susceptibility to Neuroglygopenia:

Mechanisms Underlying the Adverse Effect of Sugar Ingestion in Children. Journal of Pediatrics. Feb

1995;126:171-7.

9. Scanto, S. and Yudkin, J. The Effect of Dietary Sucrose on Blood Lipids, Serum Insulin, Platelet

Adhesiveness and Body Weight in Human Volunteers, Postgraduate Medicine Journal. 1969;45:602_607.

10. Albrink, M. and Ullrich I. H. Interaction of Dietary Sucrose and Fiber on Serum Lipids in Healthy Young

Men Fed High Carbohydrate Diets. American Journal of Clinical Nutrition. 1986;43:419-428. Pamplona, R.,

et al. Mechanisms of Glycation in Atherogenesis. Med Hypotheses. Mar 1993;40(3):174-81.

11. Reiser, S. Effects of Dietary Sugars on Metabolic Risk Factors Associated with Heart Disease. Nutritional

Health. 1985;203_216.

12. Lewis, G. F. and Steiner, G. Acute Effects of Insulin in the Control of Vldl Production in Humans.

Implications for The insulin-resistant State. Diabetes Care. 1996 Apr;19(4):390-3 R. Pamplona, M. .J., et al.

Mechanisms of Glycation in Atherogenesis. Medical Hypotheses. 1990;40:174-181.

13. Cerami, A., Vlassara, H., and Brownlee, M. “Glucose and Aging.” Scientific American. May 1987:90. Lee, A.

T. and Cerami, A. The Role of Glycation in Aging. Annals of the New York Academy of Science; 663:63-67.

14. Takahashi, E., Tohoku University School of Medicine, Wholistic Health Digest. October 1982:41:00

15. Quillin, Patrick, Cancer’s Sweet Tooth, Nutrition Science News. Ap 2000 Rothkopf, M.. Nutrition. July/Aug

1990;6(4).

16. Michaud, D. Dietary Sugar, Glycemic Load, and Pancreatic Cancer Risk in a Prospective Study. J Natl

Cancer Inst. Sep 4, 2002 ;94(17):1293-300.

17. Moerman, C. J., et al. Dietary Sugar Intake in the Etiology of Biliary Tract Cancer. International Journal of

Epidemiology. Ap 1993.2(2):207-214.

18. The Edell Health Letter. Sept 1991;7:1.

19. De Stefani, E.”Dietary Sugar and Lung Cancer: a Case control Study in Uruguay.” Nutrition and Cancer.

1998;31(2):132_7.

20. Cornee, J., et al. A Case-control Study of Gastric Cancer and Nutritional Factors in Marseille, France.

European Journal of Epidemiology 11 (1995):55-65.

21. Kelsay, J., et al. Diets High in Glucose or Sucrose and Young Women. American Journal of Clinical

Nutrition. 1974;27:926_936. Thomas, B. J., et al. Relation of Habitual Diet to Fasting Plasma Insulin

Concentration and the Insulin Response to Oral Glucose, Human Nutrition Clinical Nutrition. 1983;

36C(1):49_51.

22. Dufty, William. Sugar Blues. (New York:Warner Books, 1975).

23. Acta Ophthalmologica Scandinavica. Mar 2002;48;25. Taub, H. Ed. Sugar Weakens Eyesight, VM

NEWSLETTER;May 1986:06:00

24. Dufty.

Halaman 19 dari 23

25. Yudkin, J. Sweet and Dangerous.(New York:Bantam Books,1974) 129

26. Cornee, J., et al. A Case-control Study of Gastric Cancer and Nutritional Factors in Marseille, France,

European Journal of Epidemiology. 1995;11

27. Persson P. G., Ahlbom, A., and Hellers, G. Epidemiology. 1992;3:47-52.

28. Jones, T. W., et al. Enhanced Adrenomedullary Response and Increased Susceptibility to Neuroglygopenia:

Mechanisms Underlying the Adverse Effect of Sugar Ingestion in Children. Journal of Pediatrics. Feb

1995;126:171-7.

29. Lee, A. T.and Cerami A. The Role of Glycation in Aging. Annals of the New York Academy of

Science.1992;663:63-70.

30. Abrahamson, E. and Peget, A. Body, Mind and Sugar. (New York: Avon, 1977.}

31. Glinsmann, W., Irausquin, H., and Youngmee, K. Evaluation of Health Aspects of Sugar Contained in

Carbohydrate Sweeteners. F. D. A. Report of Sugars Task Force. 1986:39:00 Makinen K.K.,et al. A

Descriptive Report of the Effects of a 16_month Xylitol Chewing_gum Programme Subsequent to a

40_month Sucrose Gum Programme. Caries Research. 1998; 32(2)107_12.

32. Glinsmann, W., Irausquin, H., and K. Youngmee. Evaluation of Health Aspects of Sugar Contained in

Carbohydrate Sweeteners. F. D. A. Report of Sugars Task Force.1986;39:36_38.

33. Appleton, N. New York: Healthy Bones. Avery Penguin Putnam:1989.

34. Keen, H., et al. Nutrient Intake, Adiposity, and Diabetes. British Medical Journal. 1989; 1:00 655_658

35. Darlington, L., Ramsey, N. W. and Mansfield, J. R. Placebo Controlled, Blind Study of Dietary Manipulation

Therapy in Rheumatoid Arthritis, Lancet. Feb 1986;8475(1):236_238.

36. Powers, L. Sensitivity: You React to What You Eat. Los Angeles Times. (Feb. 12, 1985). Cheng, J., et al.

Preliminary Clinical Study on the Correlation Between Allergic Rhinitis and Food Factors. Lin Chuang Er Bi

Yan Hou Ke Za Zhi Aug 2002;16(8):393-396.

37. Erlander, S. The Cause and Cure of Multiple Sclerosis, The Disease to End Disease.” Mar 3, 1979;1(3):59_63.

38. Crook, W. J. The Yeast Connection. (TN:Professional Books, 1984).

39. Heaton, K. The Sweet Road to Gallstones. British Medical Journal. Apr 14, 1984; 288:00:00 1103_1104.

Misciagna, G., et al. American Journal of Clinical Nutrition. 1999;69:120-126.

40. Cleave, T. The Saccharine Disease. (New Canaan, CT: Keats Publishing, 1974).

41. Ibid.

42. Cleave, T. and Campbell, G. (Bristol, England:Diabetes, Coronary Thrombosis and the Saccharine Disease:

John Wright and Sons, 1960).

43. Behall, K. Influ ence of Estrogen Content of Oral Contraceptives and Consumption of Sucrose on Blood

Parameters. Disease Abstracts International. 1982;431437.

44. Tjäderhane, L. and Larmas, M. A High Sucrose Diet Decreases the Mechanical Strength of Bones in

Growing Rats. Journal of Nutrition. 1998:128:1807_1810.

45. Beck, Nielsen H., Pedersen O., and Schwartz S. Effects of Diet on the Cellular Insulin Binding and the

Insulin Sensitivity in Young Healthy Subjects. Diabetes. 1978;15:289_296 .

46. Sucrose Induces Diabetes in Cat. Federal Protocol. 1974;6(97). diabetes

47. Reiser, S., et al. Effects of Sugars on Indices on Glucose Tolerance in Humans. American Journal of Clinical

Nutrition. 1986;43:151-159.

48. Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism. Aug 2000

49. Hodges, R., and Rebello, T. Carbohydrates and Blood Pressure. Annals of Internal Medicine.

1983:98:838_841.

50. Behar, D., et al. Sugar Challenge Testing with Children Considered Behaviorally Sugar Reactive. Nutritional

Behavior. 1984;1:277_288.

51. Furth, A. and Harding, J. Why Sugar Is Bad For You. New Scientist. Sep 23, 1989;44.

52. Simmons, J. Is The Sand of Time Sugar? LONGEVITY. June 1990:00:00 49_53.

53. Appleton, N. New York: LICK THE SUGAR HABIT. Avery Penguin Putnam:1988. allergies

54. Cleave, T. The Saccharine Disease: (New Canaan Ct: Keats Publishing, Inc., 1974).131.

55. Ibid. 132

56. Pamplona, R., et al. Mechanisms of Glycation in Atherogenesis. Medical Hypotheses . 1990:00:00 174_181.

57. Vaccaro O., Ruth, K. J. and Stamler J. Relationship of Postload Plasma Glucose to Mortality with 19 yr

Follow up. Diabetes Care. Oct 15,1992;10:328_334. Tominaga, M., et al, Impaired Glucose Tolerance Is a

Risk Factor for Cardiovascular Disease, but Not Fasting Glucose. Diabetes Care. 1999:2(6):920-924.

58. Lee, A. T. and Cerami, A. Modifications of Proteins and Nucleic Acids by Reducing Sugars: Possible Role in

Aging. Handbook of the Biology of Aging. (New York: Academic Press, 1990.).

59. Monnier, V. M. Nonenzymatic Glycosylation, the Maillard Reaction and the Aging Process. Journal of

Gerontology 1990:45(4):105_110.

60. Cerami, A., Vlassara, H., and Brownlee, M. Glucose and Aging. Scientific American. May 1987:00:00 90

61. Dyer, D. G., et al. Accumulation of Maillard Reaction Products in Skin Collagen in Diabetes and Aging.

Journal of Clinical Investigation. 1993:93(6):421_22.

Halaman 20 dari 23

62. Veromann, S.et al.”Dietary Sugar and Salt Represent Real Risk Factors for Cataract Development.”

Ophthalmologica. 2003 Jul-Aug;217(4):302-307.

63. Goulart, F. S. Are You Sugar Smart? American Fitness. March_April 1991:00:00 34_38. Milwakuee, WI

64. Monnier, V. M. Nonenzymatic Glycosylation, the Maillard Reaction and the Aging Process. Journal of

Gerontology. 1990:45(4):105_110.

65. Ceriello, A. Oxidative Stress and Glycemic Regulation. Metabolism. Feb 2000;49(2 Suppl 1):27-29.

66. Appleton, Nancy. New York; Lick the Sugar Habit. Avery Penguin Putnam, 1988 enzymes

67. Hellenbrand, W. Diet and Parkinson’s Disease. A Possible Role for the Past Intake of Specific Nutrients.

Results from a Self-administered Food-frequency Questionnaire in a Case-control Study. Neurology. Sep

1996;47(3):644-650.

68. Goulart, F. S. Are You Sugar Smart? American Fitness. March_April 1991:00:00 34_38.

69. Ibid.

70. Yudkin, J., Kang, S. and Bruckdorfer, K. Effects of High Dietary Sugar. British Journal of Medicine. Nov 22,

1980;1396.

71. Blacklock, N. J., Sucrose and Idiopathic Renal Stone. Nutrition and Health. 1987;5(1-2):9- Curhan, G., et al.

Beverage Use and Risk for Kidney Stones in Women. Annals of Internal Medicine. 1998:28:534-340.

72. Goulart, F. S. Are You Sugar Smart? American Fitness. March_April 1991:00:00 34_38. Milwakuee, WI,:

73. Ibid. fluid retention

74. Ibid. bowel movement

75. Ibid. compromise the lining of the capillaries

76. Nash, J. Health Contenders. Essence. Jan 1992; 23:00 79_81.

77. Grand, E. Food Allergies and Migraine.Lancet. 1979:1:955_959.

78. Schauss, A. Diet, Crime and Delinquency. (Berkley Ca; Parker House, 1981.)

79. Molteni, R, et al. A High-fat, Refined Sugar Diet Reduces Hippocampal Brain-derived Neurotrophic Factor,

Neuronal Plasticity, and Learning. NeuroScience. 2002;112(4):803-814.

80. Christensen, L. The Role of Caffeine and Sugar in Depression. Nutrition Report. Mar 1991;9(3):17-24.

81. Ibid,44

82. Yudkin, J. Sweet and Dangerous.(New York:Bantam Books,1974) 129

83. Frey, J. Is There Sugar in the Alzheimer’s Disease? Annales De Biologie Clinique. 2001; 59 (3):253-257.

84. Yudkin, J. Metabolic Changes Induced by Sugar in Relation to Coronary Heart Disease and Diabetes.

Nutrition and Health. 1987;5(1-2):5-8.

85. Yudkin, J and Eisa, O. Dietary Sucrose and Oestradiol Concentration in Young Men. Annals of Nutrition and

Metabolism. 1988:32(2):53-55.

86. The Edell Health Letter. Sept 1991;7:1.

87. Gardner, L. and Reiser, S. Effects of Dietary Carbohydrate on Fasting Levels of Human Growth Hormone

and Cortisol. Proceedings of the Society for Experimental Biology and Medicine. 1982;169:36_40.

88. Journal of Advanced Medicine. 1994;7(1):51-58.

89. Ceriello, A. Oxidative Stress and Glycemic Regulation. Metabolism. Feb 2000;49(2 Suppl 1):27-29.

90. Postgraduate Medicine.Sept 1969:45:602-07.

91. Lenders, C. M. Gestational Age and Infant Size at Birth Are Associated with Dietary Intake among Pregnant

Adolescents. Journal of Nutrition. Jun 1997;1113- 1117

92. Ibid.

93. Sugar, White Flour Withdrawal Produces Chemical Response. The Addiction Letter. Jul 1992:04:00

Colantuoni, C., et al. Evidence That Intermittent, Excessive Sugar Intake Causes Endogenous Opioid

Dependence. Obes Res. Jun 2002 ;10(6):478-488. Annual Meeting of the American Psychological Society,

Toronto, June 17, 2001 http://www.mercola.com/2001/jun/30/sugar.htm

94. Ibid.

95. Sunehag, A. L., et al. Gluconeogenesis in Very Low Birth Weight Infants Receiving Total Parenteral

Nutrition Diabetes. 1999 ;48 7991_800.

96. Christensen L., et al. Impact of A Dietary Change on Emotional Distress. Journal of Abnormal

Psychology.1985;94(4):565_79.

97. Nutrition Health Review. Fall 85 changes sugar into fat faster than fat

98. Ludwig, D. S., et al. High Glycemic Index Foods, Overeating and Obesity. Pediatrics. March

1999;103(3):26-32.

99. Pediatrics Research. 1995;38(4):539-542. Berdonces, J. L. Attention Deficit and Infantile Hyperactivity. Rev

Enferm. Jan 2001;4(1)11-4

100. Blacklock, N. J. Sucrose and Idiopathic Renal Stone. Nutrition Health. 1987;5(1 & 2):9-

101. Lechin, F., et al. Effects of an Oral Glucose Load on Plasma Neurotransmitters in Humans.

Neurophychobiology. 1992;26(1-2):4-11.

102. Fields, M. Journal of the American College of Nutrition. Aug 1998;17(4):317_321.

103. Arieff, A. I. Veterans Administration Medical Center in San Francisco. San Jose Mercury; June 12/86. IVs of

sugar water can cut off oxygen to the brain.

Halaman 21 dari 23

104. Sandler, Benjamin P. Diet Prevents Polio. Milwakuee, WI,:The Lee Foundation for for Nutritional Research,

1951

105. Murphy, Patricia. The Role of Sugar in Epileptic Seizures. Townsend Letter for Doctors and Patients. May,

2001 Murphy Is Editor of Epilepsy Wellness Newsletter, 1462 West 5th Ave., Eugene, Oregon 97402

106. Stern, N. & Tuck, M. Pathogenesis of Hypertension in Diabetes Mellitus. Diabetes Mellitus, a Fundamental

and Clinical Test. 2nd Edition, (PhiladelphiA; A:Lippincott Williams & Wilkins, 2000)943-957.

107. Christansen, D. Critical Care: Sugar Limit Saves Lives. Science News. June 30, 2001; 159:404.

108. Donnini, D. et al. Glucose May Induce Cell Death through a Free Radical-mediated Mechanism.Biochem

Biohhys Res Commun. Feb 15, 1996:219(2):412-417.

109. Schoenthaler, S. The Los Angeles Probation Department Diet-Behavior Program: Am Empirical Analysis of

Six Institutional Settings. Int J Biosocial Res 5(2):88-89.

110. Gluconeogenesis in Very Low Birth Weight Infants Receiving Total Parenteral Nutrition. Diabetes. 1999

Apr;48(4):791-800.

111. Glinsmann, W., et al. Evaluation of Health Aspects of Sugar Contained in Carbohydrate Sweeteners.” FDA

Report of Sugars Task Force -1986 39 123 Yudkin, J. and Eisa, O. Dietary Sucrose and Oestradiol

Concentration in Young Men. Annals of Nutrition and Metabolism. 1988;32(2):53-5.

gula pasir

Apa itu Gula Putih? Ia adalah hasil proses olahan yang panjang. Berasal dari perasan
tebu atau beet. Dalam proses tersebut perasan tebu dipanaskan, dikristalkan, diputihkan,
diberi pengawet, dst. Hilang semua vitamin, protein, mineral, enzym, dan yang tersisa
hanyalah “karbohidrat” tok, yaitu: sucrosa (kristal gula). Di tahun 1957, Dr. Coda Martin, menjelaskan mengapa gula putih begitu berbahaya, dan mengklasifikasikan gula
putih sebagai racun (poison) dan bukan makanan. (Ref: Martin, William Coda When is a Food a Food –and When a Poison? Michigan Organic News, March 1957 ). Lebih lanjut beliau menjelaskan, bahwa badan manusia tidak dapat menggunakan “karbohidrat” sejenis ini kecuali jika vitamin, protein,mineral yg terbuat tersebut dikembalikan. Alam ini memberikan vitamin, protein, mineral yang cukup bagi “karbohidrat” tersebut untuk mencerna makanan tersebut.

Metabolisme “karbohidrat” murni macam gula, akan membuat zat racun seperti asam
pyrufic dan gula abnormal yang terdiri dari lima carbon atoms. Asam pyruvic akan
terkumpul di kepala dan jaringan syaraf, dan gula abnormal tersebut dalam sel darah
merah. Zat racun tersebut akan mengganggu pernafasan sel. Sel tidak dapat cukup
oksigen untuk berfungsi dan untuk hidup normal. Dalam waktunya, sebagian sel akan
mati. Ini akan menggangu fungsi dari bagian sel yang mati tersebut dan mulainya
penyakit degeneratif (diabetes, jantung, kanker).

Memakan gula putih lebih buruk daripada tidak makan samasekali, karena ia akan
menguras dan melarutkan vitamin dan mineral dalam tubuh, pada saat gula tersebut
dicerna, dan dibuang dari dalam tubuh. Jadi, untuk memproteksi dari asupan gula yang
tinggi, tubuh terpaksa melakukan beberapa hal. Calcium dari tulang/ gigi, dan
magnesium dari enzym dalam tubuh dimobilisaikan dan digunakan dalam proses kimia
untuk menetralkan atau menyeimbangkan tubuh dari keasaman yang ditimbulkan oleh
gula pasir.
Gula putih yang dimakan tiap hari akan menghasilkan keasaman tubuh yang tinggi, dan
makin banyak mineral dari dalam tubuh untuk menyeimbangkan asupan tersebut. Saking
tingginya asupan gula, maka mulai keroposan tulang (osteoporosis) dan gigi (gigi tipis,
gigi berlubang), dan tubuh secara umum mulai melemah.

Kelebihan asupan gula akhirnya mempengaruhi seluruh organ tubuh. Mulanya disimpan
dalam hati dalam bentuk glucose (glycogen). Karena kapasitas hati (liver) terbatas maka
asupan harian dari gula putih akan membuat hati menggelembung, seperti balon. Jika
hati sudah maximum, maka kelebihan glycogen tersebut dikembalikan dalam darah
dalam bentuk fatty acids. Kemudian akan dibawa keseluruh badan dan ditaruh dalam
tempat yang paling tidak aktif, seperti perut, pantat, payudara, dan paha. Jadilah kita
tampak gemuk!

Jika tempat-tempat inipun sudah penuh sesak, maka fatty acids akan didistribusikan pada
organ aktif seperti jantung dan ginjal. Mulailah organ tersebut melemah, dan berubah
menjadi lemak. Seluruh badan terpengaruh karena organ tersebut melemah, dan tekanan
darah yg tidak normal terjadi. Peredaran system lympa mulai diserang, dan kualitas dari
red corpuscles mulai berubah. Kemampuan badan untuk imunitas menjadi berkurang,
dan kita tidak dapat merespon dengan cepat serangan luar seperti dingin, panas, mikroba
atau virus.

Kelebihan gula memiliki efek yang jelek pada otak. Kunci dari fungsi otak normal
adalah asam glutamic. Vitamin B dalam badan akan merubah asam glutamic acid ini
menjadi senyawa kimia yang mengatur kerja otak. Vitamin B diproduksi oleh bacteria
baik yang tinggal dalam usus. Ketika gula putih dimakan tiap hari, bakteri ini melemah
dan banyak yang mati, akibatnya produksi vitamin B menurun drastis. Banyak gula akan
membuat orang mengantuk (1-2 jam setelah makan nasi, anda akan diserang kantuk
berat!, terjadi setiap hari!). Kemampuan kita untuk berfikir dan mengingat berkurang!
Jadi makanan apa yang tidak boleh, dan yang menggandung gula? Gula putih terutama,
dan semua makanan dan minuman yang ada gula putih. Contoh: Sirop, Permen, Gulali,
Teh Botol (dan sejenisnya), CocaCola (dan sejenisnya), roti manis, kue manis, kue taart,
martabak manis. Dalam satu kaleng Coca cola saja terdapat 17 sendok-teh gula.
GULA APA YANG DIMAKSUD? Terutama gula pasir (Sukrosa), yang diolah dari tebu
atau beet. Termasuk juga gula batu, gula ‘kotak’ dan gula coklat, yang sebenarnya gula
putih yang diberi karamel. Gula pasir adalah disakarida yg rumus kimianya adalah C-
12H-220-11, bandingkan dengan gula dalam darah yaitu glucosa adalah mono-sakarida
yang rumus kimianya C-6H-120-6.

BERAPA BANYAK GULA PASIR YG BOLEH DIKONSUMSI? Sebaiknya tidak
sama sekali! Ekivalen gula (glucose) dalam darah manusia berbobot 70kg adalah 90 mg
per 100 ml, atau sekitar 5 mg, satu sendok teh! Kondisi ini dijaga betul dan dijaga habis
habisan oleh tubuh agar tetap seimbang. Bayangkan kalau kita minum CocaCola berisi
17 sendok teh gula putih (sucrose)! Betapa paniknya tubuh kita untuk menetralisir gula
(sucrose) tersebut.

Coba perhatikan, Gula Pasir mulai terkenal pada akhir abad 18, dikarenakan kemajuan
mesin-mesin pengolah gula. Sebelumnya tidak begitu dikenal dan tidak dikonsumsi,
karena harganya yang tinggi. Di Inggris, rata-rata gula pasir digunakan sebanyak 7.5 kg
per tahun per orang di tahun 1815, meningkat menjadi 60 kg per tahun per orang di tahun
1995!. Tidak heran kejadian gemuk, penyakit diabetes, dan hypoglicemia (rendah gula)
meningkat dari tahun ke tahun.
Bukankah gula sama dengan energy? Energy cepat macam gula putih, dikarenakan
sucrosa tidak dicerna oleh mulut bahkan lambung, tapi langsung dicerna di usus halus,
jadi langsung masuk dalam darah. Kecepatan ekstra seperti ini menyebabkan banyak
kerusakan daripada perbaikan. Kalau memang “murah” dan “penuh energy”, mengapa
manusia dan binatang tidak menggantikan makanan mereka dengan gula putih saja?
Kenyataannya, makan gula putih saja sama saja dengan bunuh diri dengan cara murah!

APA PENGGANTI GULA? Madu, selain itu Gula Aren atau Gula Merah, juga raw
cane sugar (turbinado). Gula Stevia juga baik. Pada prinsipnya karena gula secara
natural jarang terdapat pada alam, maka konsumsi gula naturalpun sebaiknya sedikit saja
(tidak berlebihan).

BAGAIMANA DENGAN NUTRASWEET atau EQUAL? Ini adalah merek dagang
dari bahan kimia bernama aspartame, bahan ini termasuk excito-toxin, merusak sel-sel
syaraf otak, penyebab pusing, mual, vertigo, masalah penglihatan mata, obesitas, dan
bahkan sampai kanker otak.

Testimoni orang yang sudah berhenti dari gula:

“Alhamdullilah, berat badan turun (dari 85kg ke 70kg), hilang
rasa kantuk saya pada siang hari atau sehabis makan, saya lebih awas, tidak cepat lelah,
tidak batuk atau pilek dengan gampang. Istri saya ikut tidak lama kemudian, dan juga
anak-anak kami. Di rumah kami sudah tidak ada lagi gula putih. Kami juga tidak beli
lagi makanan manis- manis seperti donat, kue-kue, martabak manis, sirop, minum teh
botol, coca-cola, susu kental manis, dst dst. Alhamdullilah, selain lebih hemat juga yg
paling penting, menjadi lebih sehat.”

Source: http://www.reksaherbal.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: