College Conspiracy: Waktunya untuk Berpikir Ulang Tentang Konsep Pendidikan

fikir1

Oleh Muhaimin Iqbal

Hari-hari ini banyak orang tua di negeri ini yang lagi nervous memikirkan lanjutan sekolah anak-anaknya. Mulai dari yang SD pindah ke SMP, dari SMP pindah ke SMA, dan dari SMA pindah ke perguruan tinggi. Kebingungan dalam menyiapkan sekolah lanjutan ini ternyata tidak hanya melanda negeri ini, di negeri yang paling banyak menjadi tujuan belajar kalangan ilmuwan, businessman dan politikus negeri ini – Amerika Serikat –, ternyata hal yang sama terjadi. Situasi menjadi tambah runyam, karena ternyata perguruan tinggi di Amerika selama ini lebih menyerupai konspirasi dan penipuan raksasa yang menyandera masa depan warga Amerika sendiri. Setidaknya hal inilah yang terungkap dalam film dokumenter panjang yang dapat Anda saksikan sendiri di sini.

Film dokumenter ini juga bukan film sembarangan karena yang menyiapkannya adalah National Inflation Association yang memiliki misi untuk mengedukasi warga Amerika agar siap menghadapi hyperinflasi negeri itu. Jadi film dokumenter ini merupakan bagian dari sosialisasi mereka, agar masyarakat yang mau belajar dan berpikiran terbuka dapat membuka wawasan yang lain – di luar pemikiran-pemikiran yang sudah melembaga di masyarakat.

Apa yang terjadi di Amerika yang digambarkan oleh film dokumentar yang berdurasi lebih dari 1 jam tersebut adalah amat sangat mirip dengan apa yang terjadi di negeri ini. Mengapa demikian? Ya karena para ahli dan pendidik negeri ini – sangat banyak yang dididik di negeri Paman Sam tersebut.

Mulai terjadinya penyimpangan di dalam pendidikan –menurut film dokumenter ini– adalah ketika anak–anak memasuki tahun keenam sekolah dasar. Pada tahun tersebut pendidikan terfokus hanya mentargetkan agar anak-anak bisa memperoleh sekolah lanjutannya dengan baik. Kejadian ini terus berulang ketika anak-anak di sekolah lanjutan (SMP dan SMA), fokus pendidikannya adalah agar anak-anak ini bisa memperoleh perguruan tinggi yang baik. Perguruan tinggi yang baik seolah menjadi tiket masa depan bagi generasi muda sehingga inilah yang dikejar habis-habisan.

Selama bertahun-tahun anak sekolah dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi, mereka tidak diajari untuk berpikiran luas menghadapi dunia nyata, berdagang, membangun usaha ataupun menciptakan produk – produk unggulan, tetapi diajari untuk berpikiran sempit sekedar siap mencari sekolah lanjutan, perguruan tinggi dan siap mencari lapangan kerja yang baik.

diploma

Anda mungkin berpikir bahwa lho tetapi di Amerika kan tempat lahirnya produk-produk inovatif seperti software komputer yang paling banyak dipakai di seluruh dunia hingga kini, juga PC dan Mac yang kemudian mengubah dunia? Betul demikian, tetapi ide-ide cemerlang tersebut juga tidak lahir dari lingkungan perguruan tinggi –- tetapi lahir dari jiwa para entrepreneur-– yang kemudian tentu para lulusan perguruan tinggi terbaik dapat melengkapinya dengan para engineer dan penelitinya, dengan accountant-nya, dengan para lawyer-nya, dan seterusnya.

Lantas apakah dengan demikian kita tidak perlu menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi? Tidak juga demikian. Bila anak Anda dapat lulus masuk perguruan tinggi terbaik – syukurilah dan lanjutkan. Tetapi untuk pendidikan anak-anak Anda tersebut tidak cukup hanya diserahkan ke sekolah atau perguruan tinggi terbaik sekalipun. Anda harus terlibat menyiapkan mereka untuk siap menghadapi dunianya yang nyata kelak.

Sebaliknya bila karena satu dan lain hal anak Anda tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi yang baik, Anda juga tidak perlu cemas – dunia tidak kiamat karenanya. Begitu banyak ilmu dan keterampilan hidup yang bisa dipelajari dengan sangat baik tanpa harus masuk perguruan tinggi yang formal sekalipun. Tetapi bagaimana bisa menyiapkan anak-anak tersebut untuk sukses di masyarakat, bila tidak melalui jalur perguruan tinggi?

Ada setidaknya empat cara yang saya temukan dari orang-orang yang saya kenal langsung, yang menurut saya sukses melaksanakan konsep pendidikan di luar jalur sekolah/perguruan tinggi yang formal ini.

Cara yang pertama adalah menggunakan teknologi internet untuk belajar dan mengasah keterampilan. Internet bisa menjadi kampus yang tidak berbatas bagi anak-anak Anda, tinggal mengarahkan saja kepada ilmu dan keterampilan yang dibutuhkannya untuk siap terjun ke masyarakat. Cara pertama ini yang kami tempuh sekeluarga, meskipun semua anak-anak kami alhamdulillah juga kuliah di perguruan tinggi negeri – tetapi pelajaran untuk terjun ke dunia nyata-nya lebih banyak dipelajari dari internet. Untuk ini yang kami perlukan hanya ruang belajar bersama yang tersambung ke internet dan sejumlah komputer – agar tidak rebutan.

Cara yang kedua adalah cara yang ditempuh oleh teman dan tetangga saya. Dia adalah Doktor dari Inggris yang memutuskan untuk mendidik anak-anaknya sendiri dengan ilmu yang sangat dia kuasai, sejak anak-anaknya masih di tingkat SMP – mereka sudah bisa memenangkan kontes robot yang melibatkan masyarakat umum. Anak-anak dengan ilmu dan keterampilan khusus semacam ini, insya Allah akan dapat berbuat banyak di masyarakat, baik dia kemudian menempuh jalur perguruan tinggi formal ataupun tidak.

Cara ketiga adalah apa yang dilakukan oleh keluarga teman saya yang lain, keluarga soleh yang pernah saya tulis di situs ini ketika mereka berada di kapal Mavi Marmara. Suami istri jurnalis dari media asing ini – subhanallah – seolah bisa hidup di negeri mana saja yang dia tuju tanpa ada beban-beban yang menghalanginya. Bagaimana dengan pendidikan 6 orang anaknya? Tidak masalah, mereka ajari sendiri di rumah – di mana saja dia tinggal dan dengan mengambilkan guru-guru terbaik di bidangnya. Salah satu putrinya yang masih belia misalnya, adalah sedikit remaja putri Indonesia yang memiliki hafalan Al-Qur’an dengan sanad yang nyambung sampai ke Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam – bahkan dia juga memiliki ijazah dari gurunya untuk dapat mengajarkan hafalan yang bersanad ini sampai ke Indonesia.

Cara keempat adalah yang dikembangkan oleh guru ngaji saya yang lulusan Madinah. Pemikiran beliau adalah sangat masuk akal, untuk melahirkan generasi terbaik dari umat ini – kita harus mengikuti persis bagaimana generasi terbaik dari umat terdahulu dididik. Bagaimana generasi unggul para sahabat dididik langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, sampai juga bagaimana delapan abad kemudian pendidikan melahirkan generasinya Muhammad Al Fatih yang dapat menaklukkan Konstantinopel. Tim dari guru ngaji saya ini kini sudah rampung menggali kembali blue print pendidikan generasi unggulan umat ini terdahulu, tahapnya kini tinggal mencari bentuk aplikasinya yang fit dengan masyarakat dan infrastruktur yang available di zaman modern ini.

Walhasil banyak cara untuk mendidik dan menyiapkan anak untuk menjadi generasi unggul masa depan – dengan ataupun tanpa melalui jalur pendidikan formal yang ada di jaman ini. Insya Allah.

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar dan kolumnis hidayatullah.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: